
Kamis, Agustus 18, 2011

emp xp
No comments
 |
| Ilustrasi Padang Golf |
BapakSainTek - Banyak pengamat lingkungan yang memandang padang golf sebagai ancaman. Mulai dari lingkungan buatan yang menggantikan habitat alami, irigasi berlebihan yang menyebabkan hanyutnya zat-zat alami di tanah, dan penggunaan pestisida serta bahan kimia lain telah merusak ekosistem. Namun Kevina Vulinec, ekolog dari Delaware State University, Dover, Amerika Serikat menemukan hal lain dari padang golf.
Dalam laporannya pada ajang tahunan Ecological Society of America (ESA), ia menyebutkan bahwa padang golf dapat menghadirkan win-win solution bagi manusia dan kelelawar. Vulinec menyebutkan, padang ini bisa berfungsi sebagai tempat perlindungan sekaligus gudang penyimpan makanan bagi hewan malam itu. Dan bagi manusia, keberadaan kelelawar bisa membantu menekan jumlah populasi serangga mengganggu di sana.
Meski bukan pemain golf, pada penelitian, Vulinec dan timnya menghabiskan 22 malam di lima padang golf di kawasan Delaware-Maryland. Mereka memasang jebakan untuk menangkap kelelawar dan juga detektor ultrasonik untuk mengukur aktivitas kelelawar di setiap mikrohabitat yang berbeda di padang-padang tersebut.
Ternyata, diketahui bahwa kelelawar kemungkinan besar mengunjungi kolam yang berfungsi sebagai rintangan di setiap hole dan juga di kawasan serupa taman di perbatasan jalur lintasan. Menurut Vulinec, lingkungan yang serupa dengan pinggir hutan yang kaya akan nyamuk tersebut serupa dengan kawasan favorit para kelelawar di alam bebas. Dan berhubung populasi kelelawar lokal terancam oleh rusaknya habitat serta pandemik fatal seperti sindrom hidung putih, padang golf bisa menyediakan tempat perlindungan yang aman.
Kini Vulinec dan timnya mengumpulkan informasi seputar aktivitas serangga di kawasan padang golf. Mereka berencana untuk melanjutkan penelitian mereka musim semi mendatang. Ia berharap, temuannya dapat memberi masukan seputar bagaimana pengelola padang golf bisa membuat lingkungannya lebih ramah bagi kelelawar. “Kita selalu mengeluh seputar padang golf, namun tidak dengan cara yang tepat,” kata Vulinec. “Kita seharusnya melihat tempat-tempat ini sebagai peluang agar dapat menguntungkan semua pihak,” ucapnya.
Terima kasih Science Magazine

Posted in:
Alam,
Biologi,
Ekologi,
Geografi,
Hewan,
Iklim,
Info,
Konservasi,
Penemuan,
Unik,
Wow

Sabtu, Juli 23, 2011

emp xp
No comments
BapakSainTek - Organ tubuh buatan untuk kaki dan tangan ternyata tidak hanya bisa diterapkan pada manusia, tetapi juga hewan. Baru-baru ini, organ kaki buatan diterapkan pada seekor kura-kura yang cacat.
Gamera, kura-kura
Afrika berumur 12 tahun, mendapatkan kaki kiri buatan dari roda. Kaki atau roda buatan ini dipasang pemiliknya di
Washington State University College of Veterinary Medicine. Roda ditempelkan di cangkang kura-kura menggunakan
epoxy atau senyawa polimer tertentu.
Pemiliknya terpaksa mengamputasi kaki Gamera setelah kaki kirinya terbakar. Jika tidak diamputasi, maka luka bakar ini dapat menjalar ke seluruh tubuh dan membahayakan nyawanya.
Uniknya, semenjak kaki palsu ini ditanamkan di cangkangnya, Gamera terlihat lebih aktif. Bahkan, bobotnya bertambah 1,4 kilogram.

Jumat, Juli 22, 2011

emp xp
No comments
 |
| Ilustrasi kecebong |
BapakSainTek - Pola listrik ditemukan di bagian
kecebong yang akan membentuk wajah
kodok. Pola tersebut menunjukkan tempat dimana mata, hidung, mulut, dan fitur wajah lainnya akan terbentuk. Fenomena ini dijelaskan dalam jurnal
Developmental Dynamics.
Peneliti
Dany Adams menemukan fenomena ini secara kebetulan saat merekam kecebong di masa-masa awalnya. Adams menghidupkan kamera videonya sepanjang malam untuk mendapatkan rekaman yang komplet. Saat video itu dilihat kembali, peneliti
Tufts tersebut mendapati adanya pola listrik yang belum pernah ditemukan sebelumnya.
Kilatan listrik itu disebabkan oleh proses
Ion flux yang membuat sekelompok sel berkumpul membentuk pola yang ditandai dengan tegangan listrik dan tingkat keasaman yang berbeda. Ketika embrio kodok berkembang, sebelum terbentuk wajah, ada pola wajah yang dibentuk kilatan listrik di permukaan embrio.

Jumat, Juli 22, 2011

emp xp
No comments
 |
| Ilustrasi kadal |
BapakSainTek - Sebuah
fosil kadal sedang mengandung telah ditemukan di
China. Fosil berumur lebih dari 120 juta tahun ini merupakan fosil kadal tertua yang ditemukan dalam keadaan mengandung.
Fosil ditemukan di bebatuan Jehol, China bagian timur laut, yang kandungan kapurnya seringkali mengungkapkan berbagai spesies dinosaurus. Saat ditemukan, fosil ini berisi lusinan embrio di dalam tubuhnya. Menurut peneliti, kadal ini mati hanya beberapa hari sebelum melahirkan. Peneliti dari University College London yang meneliti tentang fosil mengatakan bahwa kadal ini terkubur pada masa Cretaceous.
Fosil ini semakin menarik karena, menurut para peneliti, mereka beranak, tidak bertelur. Menurut penelitian, hanya 20 persen dari populasi kadal dan ular yang bereproduksi dengan beranak.
Profesor Susan Evans yang memimpin penelitian mengatakan, "Saat pertama kali melihat, saya tidak begitu peduli dengan fosil ini." Kemudian,
Yuan Wang, rekan Susan dari
Chinese Academy of Sciences menemukan setidaknya 15 embiro di dalam fosil tersebut. "Dengan bantuan mikroskop, saya dapat melihat semua bayi kecil itu," tambah Susan. Dengan melihat lebih dekat, pertumbuhan gigi dari embrio-embrio ini dapat terlihat.Peneliti mengira reproduksi dengan beranak merupakan ciri dari spesies air. Namun, kadal ini berdomisili di darat, walaupun mereka dapat berenang. "Kami tahu kalau kadal ini hidup dekat dengan air dan tinggal di darat," ucap Susan. Dengan keadaan seperti ini, kadal tersebut dapat menyelam ke dalam air jika ada predator yang ingin memangsanya.Fosil kadal ini termasuk ke dalam Yabeinosaurus, yaitu kadal besar yang tumbuh lambat dan cukup primitif. Terima kasih National Geographic Indonesia

Jumat, Juli 22, 2011

emp xp
No comments
 |
| Ilustrasi Singa |
BapakSainTek - Serangan singa terhadap manusia di Afrika banyak terjadi satu hari setelah bulan purnama. Hal ini dilaporkan dalam jurnal PloS ONE yang terbit 20 Juli 2011.
Serangan itu terjadi karena singa sulit mendapat mangsa saat bulan purnama yang terang. Selama 10 hari setelah purnama, bulan baru muncul beberapa waktu setelah matahari terbenam. "Jumlah serangan pada manusia saat hari telah gelap meroket pada 5 hari setelah purnama," jelas peneliti Craig Packer dari University of Minnesota.
Di Tanzania, Packer dan rekan-rekannya mendapati hal serupa. Dengan menganalisis sekitar 500 serangan singa terhadap manusia yang terjadi sejak tahun 1988, peneliti mendapati bahwa jumlah serangan dua sampai empat kali lebih besar dalam jangka waktu 10 hari setelah bulan purnama dibandingkan waktu lain.
Bahaya singa di Tanzania memang sangat terasa. Lebih dari 1.000 orang di sebelah selatan Tanzania diserang singa sejak 1988 hingga 2009--dua pertiga dari serangan itu berakhir fatal dengan dimakannya korban.
Packer mengatakan serangan banyak terjadi pada saat jam-jam awal malam hari. Beberapa hari sebelum purnama, kondisi tergelap terjadi saat subuh, ketika hanya sedikit orang yang keluar rumah. Sementara setelah bulan purnama, ada kondisi gelap pada saat belum terlalu malam, ketika orang-orang masih beraktivitas. "Mereka inilah yang rentan untuk diserang," jelas Packer.
Terima kasih National Geographic Indonesia