Twitter BirdDaichi Bold
Mohon klik iklan dibawah untuk perkembangan blog kami. Terimakasih
Tampilkan postingan dengan label Iklim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iklim. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2011

FKH UGM Ditunjuk Sebagai Pusat "Ecohealth" Asia

Ilustrasi Ekosistem
BapakSainTek - Fakultas Kedokteran Hewan UGM ditunjuk sebagai pusat kesehatan regional tingkat Asia (Regional Center Ecohealth di Asia/ERCA). Pembentukan ERCA diharapkan dapat menjadi bagian pengembangan kesehatan lingkungan, kesehatan hewan, manusia, serta desain komunitas kesehatan.

"Ecohealth merupakan suatu pendekatan bahwa pelestarian dan penjagaan kesehatan lingkungan merupakan dasar untuk kesehatan hewan yang juga berhubungan dengan kesehatan manusia," jelas Dekan FKH UGM Bambang Sumiarto.

Kegiatan ini melibatkan berbagai disiplin ilmu seperti kedokteran, kedokteran hewan, peternakan, biologi, geografi, antropologi, dan ilmu sosial. Fokus kegiatan ecohealth adalah pengembangan kemampuan, pengembangan kurikulum, penelitian penyakit hewan, serta penumbuhan komunitas lewat praktik kerja nyata.

FKH sendiri sendiri akan mengembangkan program "One Health" yang disponsori oleh USAID dan Amerika. “Program ini sangat cocok dengan ERCA yang juga menekankan pada pendekatan multidisiplin untuk berbagai penanganan masalah kesehatan dan penyebaran penyakit baru,” katanya.


Dalam mengembangkan ERCA, FKH UGM bekerja sama dengan International Livestock Research Institute (ILRI) dan IDRC Canada melalui Zoonotic Diseases Center (ZDC) yang di dirikan Fakultas Kedokteran Hewan pada 20 September.

Terima kasih National Geographic Indonesia

Bagikan ke :

Padang Golf Untungkan Manusia dan Kelelawar?

Ilustrasi Padang Golf
BapakSainTek - Banyak pengamat lingkungan yang memandang padang golf sebagai ancaman. Mulai dari lingkungan buatan yang menggantikan habitat alami, irigasi berlebihan yang menyebabkan hanyutnya zat-zat alami di tanah, dan penggunaan pestisida serta bahan kimia lain telah merusak ekosistem. Namun Kevina Vulinec, ekolog dari Delaware State University, Dover, Amerika Serikat menemukan hal lain dari padang golf.

Dalam laporannya pada ajang tahunan Ecological Society of America (ESA), ia menyebutkan bahwa padang golf dapat menghadirkan win-win solution bagi manusia dan kelelawar. Vulinec menyebutkan, padang ini bisa berfungsi sebagai tempat perlindungan sekaligus gudang penyimpan makanan bagi hewan malam itu. Dan bagi manusia, keberadaan kelelawar bisa membantu menekan jumlah populasi serangga mengganggu di sana.

Meski bukan pemain golf, pada penelitian, Vulinec dan timnya menghabiskan 22 malam di lima padang golf di kawasan Delaware-Maryland. Mereka memasang jebakan untuk menangkap kelelawar dan juga detektor ultrasonik untuk mengukur aktivitas kelelawar di setiap mikrohabitat yang berbeda di padang-padang tersebut.

Ternyata, diketahui bahwa kelelawar kemungkinan besar mengunjungi kolam yang berfungsi sebagai rintangan di setiap hole dan juga di kawasan serupa taman di perbatasan jalur lintasan. Menurut Vulinec, lingkungan yang serupa dengan pinggir hutan yang kaya akan nyamuk tersebut serupa dengan kawasan favorit para kelelawar di alam bebas. Dan berhubung populasi kelelawar lokal terancam oleh rusaknya habitat serta pandemik fatal seperti sindrom hidung putih, padang golf bisa menyediakan tempat perlindungan yang aman.

Kini Vulinec dan timnya mengumpulkan informasi seputar aktivitas serangga di kawasan padang golf. Mereka berencana untuk melanjutkan penelitian mereka musim semi mendatang. Ia berharap, temuannya dapat memberi masukan seputar bagaimana pengelola padang golf bisa membuat lingkungannya lebih ramah bagi kelelawar. “Kita selalu mengeluh seputar padang golf, namun tidak dengan cara yang tepat,” kata Vulinec. “Kita seharusnya melihat tempat-tempat ini sebagai peluang agar dapat menguntungkan semua pihak,” ucapnya.

Terima kasih Science Magazine

Bagikan ke :

Penghijauan Pantai Selatan Belum Optimal

BapakSainTek - Program penghijauan untuk menyelamatkan pesisir selatan dari abrasi pantai belum optimal dilakukan. Padahal abrasi mencapai 10 meter tiap tahunnya.

Kepala Seksi Pemberdayaan Masyakarat Pesisir Dinas Kelautan dan Perikanan Bantul Rudi Suharta mengatakan, "Berbagai program pemberdayaan seperti kegiatan wisata khususnya di area tanaman bakau, penanaman cemara udang serta budi daya ikan seperti lele atau sidat sudah dicanangkan. Namun, belum semua daerah pesisir melakukan realisasi program tersebut."

Saat ini, penanaman bakau atau cemara sudah dilakukan di Pantai Kuwaru dan Pantai Gua Cemara, namun belum dilakukan di Cangking Poncosari dan daerah lainnya. Padahal penghijauan di Pantai Gua Cemara sudah berdampak bagus pada kegiatan ekonomi penduduk, seperti berkembangnya budidaya lele yang dapat dipanen dua minggu sekali.

Kendati demikian penghijaun dengan tanaman bakau atau cemara udang belum tentu dapat diterapkan di seluruh daerah lantaran adanya cagar alam lainnya. Rudi memberi contoh wilayah antara Parangkusumo dan Depok yang memiliki gumuk pasir berpindah. Bila dilakukan penanaman cemara udang, gumuk pasir akan menghilang. Padahal daerah itu merupakan cagar alam satu-satunya di Asia Tenggara. Gumuk pasir juga dapat mengurangi risiko tsunami.

Rudi menambahkan semangat pemberdayaan kawasan pesisir selatan ini tergantung motivasi warga. "Warga perlu mengetahui bahwa penghijauan, selain menyelamatkan lingkungan, juga membantu perekonomian mereka," tandas Rudi.

Terima kasih National Geographic Indonesia

Bagikan ke :

Kamis, 11 Agustus 2011

Mengangkut Gunung Es ke Afrika

BapakSainTek - Memindahkan gunung es ke daerah kering di belahan dunia lain dapat dilakukan untuk menolong daerah yang kekeringan. Hal ini ditunjukkan dengan simulasi yang dilakukan oleh Dassault Systemes, perusahaan peranti lunak dari Prancis.

Simulasi dilakukan dengan memindahkan gunung es yang ada di Newfoundland, Kanada ke Pulau Canary di Pantai Barat Afrika. Menurut perhitungan para peneliti, pemindahan ini akan membutuhkan waktu sekitar lima bulan dan biaya mendekati sepuluh juta dolar Amerika Serikat.

Dalam simulasi dijelaskan, gunung es seberat tujuh ton akan dibungkus dengan cara tertentu agar tidak mencair. Kemudian, es yang terisolasi ditarik oleh kapal dengan kecepatan satu knot. Berdasarkan simulasi, es kehilangan 38 persen massanya saat saat sampai tujuan.

Para ahli mengakui butuh kendaraan pengangkut yang jauh lebih besar. Untuk dapat menyediakan air segar bagi setengah juta orang dalam setahun, diperlukan gunung es sebesar 30 juta ton. Selain itu, masalah juga akan muncul saat memindahkan gunung es tersebut ke atas daratan yang kering.

Pendanaan pun akan menjadi salah satu rintangan dalam merealisasikan simulasi ini. Untuk melakukan pemindahan diperlukan beberapa hal, lapisan pelindung gunung es, bahan bakar selama lima bulan, sumber daya manusia, dan juga distribusi air saat sampai tujuan.

Sekitar 40.000 gunung es terpecah dari sumbernya tiap tahun. Walaupun membutuhkan biaya besar, peneliti memperkirakan, dengan jumlah tersebut akan cukup bermanfaat untuk memindahkan pecahan gunung es tersebut ke daerah yang kering, seperti di Afrika.

Ide pemindahan gunung ini dicetuskan Geroges Mougin pada tahun 1970-an. Dassault Systemes lalu melakukan simulasinya.

National Geographic Indonesia

Bagikan ke :

Jumat, 22 Juli 2011

Patung Liberty Tersambar Petir

Patung Liberty
BapakSainTek - Setiap tahun Liberty Enlightening the World atau Patung Liberty di New York Harbour ini beberapa kali terkena sambaran petir. Bahkan patung raksasa pemberian Francis yang terletak di Pulau Liberty ini sering kali menjadi sasaran petir ketika hujan badai menerjang kota. Ini terjadi lantaran Patung Liberty menjadi benda tertinggi di sekitarnya, sebab karakteristik petir selalu mencari benda yang lebih tinggi.

Bagikan ke :

Data Iklim hanya 20 Persen Yang Sudah Terkomputerisasi

Ilustrasi Iklim
BapakSainTek - Studi terbaru menyebutkan, saat ini hanya 20 persen data yang berkaitan dengan iklim yang bisa diakses komunitas ilmiah. Sementara 80 persen lainnya tidak dapat diakses dalam format digital.

Studi yang dilakukan Rovira i Virgili University (URV) itu menunjukkan data iklim di Eropa hanya tercatat hingga abad ke-17. Kondisinya bahkan lebih buruk di benua lain seperti Afrika dan Amerika Selatan yang baru mulai memiliki catatan iklim sejak pertengahan abad 19. "Data iklim masa lalu yang bisa diakses oleh komunitas ilmiah tidak sampai 20 persennya," kata Manola Brunet, pimpinan studi tersebut.

Lebih lanjut, Brunet mengatakan bahwa kegagalan untuk mengurai pesan-pesan yang terdapat dalam catatan iklim di masa lalu dapat menimbulkan masalah sosioekonomi. "Karena kita tidak bisa menangani dampak perubahan iklim di masa kini maupun masa depan," katanya.

Saat ini baru Spanyol, Amerika Serikat, Kanada, Belanda, Norwegia, dan sebagian kecil negara lain yang mengizinkan catatan sejarah iklimnya diakses komunitas ilmiah, walaupun tidak secara sepenuhnya. Sementara negara lain di dunia belum membuka akses data serupa baik untuk komunitas ilmiah maupun publik, meskipun Badan Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) sudah merekomendasikan.

Terima kasih National Geographic Indonesia

Bagikan ke :